Monday, August 20, 2018

Perempuan Perempuan Perkasa (di jawa Abad XVIII-XIX) oleh Peter Carey & Vincent Houbent


Judul Buku “Perempuan perempuan Perkasa (di jawa Abad XVIII-XIX)
Oleh: Peter carey & Vincent Houbent
Tahun: 2018
Penerbit: PT gramedia
Kota: Jakarta
Perefiuw: Mohamad Feri Fadli, S.Pd

Tanggal Refiuw: 3 juni 2018
 Bagian 1
Sosok Perempuan Jawa dalam sastra kolonial Hindia Belanda
Dalam sejarah warisan sastra, dimasa sebelum dan selama indonesia masih disebut dengan hindia Belanda karena menjadi jajahan bangsa Belanda antara tahun 1602 sampai 1942 perempuan Indonesia di sebut dengan perempuan rendah. Sebuatan sosok perempuan adalah perempuan rendah menjadi tantangan berat sosok perempuan yaitu RA Kartini untuk mengubah anggapan tersebut. Pada masa kolonial hindia Belanda wanita identik dengan sebutan surga dunia, hiburan seksual kesuburan dan gairah seks yang tidak pernah pudar .
Bagian 2
Sosok Perempuan dalam wayang
Dalam sejarah dahulu, bila dijelaskan lebih jauh sosok perempuan telah lama menjadi bahan pembicara oleh para budayawan. Dalam seni budaya pewayaangan terlihat jelas sosok perempuan yang perkasa identik dengan memperlihatkan tekat perempuan perkasa yang muda yang naik darah. Bahkan dalam sosok pewayangan perempuan identik yang gemar berperang dan punya sifat pemarah seperti kaum lelaki. Sosok perempuan yang kuat dan menampilkan sosok yang perkasa di jelaskan dalam seni pewayangan Ken dedes dan Dewi Munding sari. Keduanya sangat luar biasa dalam menemani sang suami sebagai raja, bahkan mampu membawa kesuburan dan penyeimbangan keharmonisan dunia.
Bagian 3
Kultus durga dan ratu kidul di keraton keraton jawa Tengah selatan.
Selama abad 18 dan awal abad 19 bila dilihat dari segi budaya tampak jelas pengaruh perempuan dengan adanya pemujaan untuk mengambil hati perempuan dengan sebutan dewi pelindung. Melihat dari bebagai kacamata upacara adat terlihat budaya adat mulai dari grebek dan sekaten di daerah daerah tidak lepas dengan keterlibatan sosok jaler (laki laki) dan estri (perempuan) dalam gunungan gunungan upacara adat.  Dalam rangka wujut syukur terhadap hasil panen. Selain itu bila dalam sejarah upacara tari adat perempuan sangat luar biasa besar pengaruhnya, terlebih menjadi sosok perempuan gaib, dan menjadi sosok yang memiliki kekuatan dan cahaya para raja raja. Dalam budaya upacara tari para raja di keraton biasanya melakukan pertalian gaib terhadap sosok dewi gaib akibat tarian klasik yang diyakini membawa kekuatan cahaya ritual.
Bagian 4
Perempuan Prajurit dan Peralihan Peran laki laki dan Perempuan di keraton Jawa Tengah Selatan.
Dalam sejarah keraton, perempuan identik dengan layaknya peran laki laki mulai dari prajurit, penghibur seni, pekerja, memintal, menenun, membatik dan menyulam. Bahkan perempuan atau wanita identik sebagai anggota anggota pasukan pengawal pribadi  pejabat atau lurah. Perempuan sering kali menggantikan sosok laki laki dalam peperangan. Bahkan di keraton jawa tengah selatan, saat itu timbul peralihan identitas laki laki dengan perempuan khusunya saat turun di medan perang. Banyak laki laki menggantikan peran perempuan dengan tarian bedoyo semarang. Pembalikan peran antara laki laki dan perempuan dikalangan elite keraton jawa tengah Selatan tampak dalam babad jawa seperti babad penaklukkan Yogyakarta dengan terlihat lebih jantan perempuan dari pada laki laki dalam berbagai kesibukan keraton.
Bagian 5
Dua Srikandi awal abad ke 19 Raden Ayu yudokusumo dan Nyai Ageng serang.
Peran perempuan di awal abad 19 terlihat oleh sosok raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang. Raden Ayu Yudokusumo mampu bertindak kejam lebih dari layaknya sosok laki laki. Raden Ayu yudokusumo ialah sosok perempuan yang punya kecerdasan tinggi, kemampuan besar, siasat jitu selayaknya laki laki. Beliau sosok yang berperan dalam elakukan perlawanan terhadap tionghoa dan pembentukan pasukan keamanan. Sedangkan Nyi Ageng Serang adalah sosok yang bergelar raden Ayu Ronggo dalam babad Mangkubumi. Beliau adalah sososk wanita yang melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Bagian 6
Perempuan Elite di keraton jawa Tengah Selatan sebagai Pengusaha dan pewaris.
Pada awal abad ke 19 perempuan di keraton Jawa Tengah Selatan, mereka baik sebagai prajurit atau anggota prajurit khusus juga membahas peran penting mereka identik dengan usaha dagang dan pengolah keuangan. Terkait perempuan dalam hal keuangan dan perdagangan mereka berperan sebagai pewaris. Bahkan perempuan memiliki hak waris setengah dari laki laki. Perempuan juag menjadi pewaris jabatan dalam kondii tertentu.
Bagian 7
Peran Perempuan sebagai Pemelihara pertalian Wangsa
Perempuan memiliki ikatan sebagai wadah pemelihara wangsa meskipun jarang berada di masyrakat. Perempuan dapat memelihara keakraban antara raja dan keluarga terkemuka dan masyarakat biasa. Karena pengaruh kecantikan dan identik dengan selir keraton peempuan tidak kurang 1 sampai lebih menjadi istri dari seorang raja dan puluhan menjadi selir satu raja.
Bagian 8
Pernikahan, penganiayaan, dan perceraian: yang menang dan yang menyerah
Diawal abad ke 19 kehidupan di keraton dalam kondisi yang semakin aktif dalam ketegasan dan keaktifan perempuan. Kehidupan perempuan seperti jelas tampak adalah perkawinan, penganiayaan dan perceraian. Hal ini menunjukan gambaran masyarakat biasa juga ada. Perkawinan prempuan yang ada identik dengan perkawinan tanpa ada rasa cinta (love Match) yaitu perkawinan dengan cinta betulan jauh dari ada, menjadikan perkawinan atas dasar kecantikan dan hubungan intim atau seks sehingga persoalan perceraian peganiayaan juga nampak.
Bagian 9
Perempuan sebagai Penghubung Istana dan Dunia pedesaan
Dampak pernikahan tanpa ada rasa cinta melainkan pengaruh kecantikan wanita, pernikahan hanya karena hubungan intim dan seks, sebagai sosok yang membawa jalur pernikahan, menjadikan wanita sebagai jalan pernikahan antara anggota masyarakat biasa dengan anggota keraton terus berjalan hingga akhir abat 18 dan awal abad 19. Perempuan  sebagai sosok yang membawa penghubung antara masyarakat biasa dengan anggota keraton terus berjalan.
Bagian 10
Perempuan sebagai penjaga Tradisi jawa pembimbing Anak, penjunjung Agama pujangga dan penggemar sastra.
Perempuan diwilayah keraton tidak lepas dari berbagai keahlian dan peran, perempuan terkait dengan keahlian dan pejuang atau pelopor kebangkiatan Nasional, mampu berperan dan mendorong politik, perempuan juga aktif dalam bidang sastra terutama berkaitan dengan pengupul dan penyalin tek yang berkaiatan dengan Islam jawa. Perempuan juga menjadi wali setia adat Jawa. Hal ini menjadikan sosok perempuan yang semakin berperan aktif dan penting dala tradisi masyarakat jawa.


No comments:

Post a Comment