Judul
Buku “Perempuan perempuan Perkasa (di jawa Abad XVIII-XIX)
Oleh:
Peter carey & Vincent Houbent
Tahun:
2018
Penerbit:
PT gramedia
Kota:
Jakarta
Perefiuw: Mohamad Feri Fadli, S.Pd
Tanggal
Refiuw: 3 juni 2018
Bagian 1
Sosok Perempuan Jawa dalam sastra kolonial Hindia Belanda
Dalam
sejarah warisan sastra, dimasa sebelum dan selama indonesia masih
disebut dengan hindia Belanda karena menjadi jajahan bangsa Belanda antara
tahun 1602 sampai 1942 perempuan Indonesia di sebut dengan perempuan rendah.
Sebuatan sosok perempuan adalah perempuan rendah menjadi tantangan berat sosok
perempuan yaitu RA Kartini untuk mengubah anggapan tersebut. Pada masa kolonial
hindia Belanda wanita identik dengan sebutan surga dunia, hiburan seksual
kesuburan dan gairah seks yang tidak pernah pudar .
Bagian 2
Sosok
Perempuan dalam wayang
Dalam
sejarah dahulu, bila dijelaskan lebih jauh sosok perempuan telah lama
menjadi bahan pembicara oleh para budayawan. Dalam seni budaya pewayaangan
terlihat jelas sosok perempuan yang perkasa identik dengan memperlihatkan tekat
perempuan perkasa yang muda yang naik darah. Bahkan dalam sosok pewayangan
perempuan identik yang gemar berperang dan punya sifat pemarah seperti kaum
lelaki. Sosok perempuan yang kuat dan menampilkan sosok yang perkasa di
jelaskan dalam seni pewayangan Ken dedes dan Dewi Munding sari. Keduanya sangat
luar biasa dalam menemani sang suami sebagai raja, bahkan mampu membawa
kesuburan dan penyeimbangan keharmonisan dunia.
Bagian 3
Kultus
durga dan ratu kidul di keraton keraton jawa Tengah selatan.
Selama
abad 18 dan awal abad 19 bila dilihat dari segi budaya tampak jelas
pengaruh perempuan dengan adanya pemujaan untuk mengambil hati perempuan dengan
sebutan dewi pelindung. Melihat dari bebagai kacamata upacara adat terlihat
budaya adat mulai dari grebek dan sekaten di daerah daerah tidak lepas dengan
keterlibatan sosok jaler (laki laki) dan estri (perempuan) dalam gunungan
gunungan upacara adat. Dalam rangka wujut
syukur terhadap hasil panen. Selain itu bila dalam sejarah upacara tari
adat perempuan sangat luar biasa besar pengaruhnya, terlebih menjadi sosok
perempuan gaib, dan menjadi sosok yang memiliki kekuatan dan cahaya para raja
raja. Dalam budaya upacara tari para raja di keraton biasanya melakukan
pertalian gaib terhadap sosok dewi gaib akibat tarian klasik yang diyakini
membawa kekuatan cahaya ritual.
Bagian 4
Perempuan
Prajurit dan Peralihan Peran laki laki dan Perempuan di keraton Jawa Tengah
Selatan.
Dalam
sejarah keraton, perempuan identik dengan layaknya peran laki laki mulai dari
prajurit, penghibur seni, pekerja, memintal, menenun, membatik dan menyulam.
Bahkan perempuan atau wanita identik sebagai anggota anggota pasukan pengawal
pribadi pejabat atau lurah. Perempuan
sering kali menggantikan sosok laki laki dalam peperangan. Bahkan di keraton
jawa tengah selatan, saat itu timbul peralihan identitas laki laki dengan
perempuan khusunya saat turun di medan perang. Banyak laki laki menggantikan
peran perempuan dengan tarian bedoyo semarang. Pembalikan peran antara laki
laki dan perempuan dikalangan elite keraton jawa tengah Selatan tampak dalam
babad jawa seperti babad penaklukkan Yogyakarta dengan terlihat lebih jantan
perempuan dari pada laki laki dalam berbagai kesibukan keraton.
Bagian 5
Dua
Srikandi awal abad ke 19 Raden Ayu yudokusumo dan Nyai Ageng serang.
Peran perempuan di awal abad 19 terlihat oleh sosok raden Ayu Yudokusumo dan
Nyai Ageng Serang. Raden Ayu Yudokusumo mampu bertindak kejam lebih dari
layaknya sosok laki laki. Raden Ayu yudokusumo ialah sosok perempuan yang punya
kecerdasan tinggi, kemampuan besar, siasat jitu selayaknya laki laki. Beliau
sosok yang berperan dalam elakukan perlawanan terhadap tionghoa dan pembentukan
pasukan keamanan. Sedangkan Nyi Ageng Serang adalah sosok yang bergelar raden
Ayu Ronggo dalam babad Mangkubumi. Beliau adalah sososk wanita yang melakukan
perlawanan terhadap Belanda.
Bagian 6
Perempuan
Elite di keraton jawa Tengah Selatan sebagai Pengusaha dan pewaris.
Pada
awal abad ke 19 perempuan di keraton Jawa Tengah Selatan, mereka baik sebagai
prajurit atau anggota prajurit khusus juga membahas peran penting mereka
identik dengan usaha dagang dan pengolah keuangan. Terkait perempuan dalam hal
keuangan dan perdagangan mereka berperan sebagai pewaris. Bahkan perempuan
memiliki hak waris setengah dari laki laki. Perempuan juag menjadi pewaris
jabatan dalam kondii tertentu.
Bagian 7
Peran
Perempuan sebagai Pemelihara pertalian Wangsa
Perempuan
memiliki ikatan sebagai wadah pemelihara wangsa meskipun jarang berada
di masyrakat. Perempuan dapat memelihara keakraban antara raja dan keluarga
terkemuka dan masyarakat biasa. Karena pengaruh kecantikan dan identik dengan
selir keraton peempuan tidak kurang 1 sampai lebih menjadi istri dari seorang
raja dan puluhan menjadi selir satu raja.
Bagian 8
Pernikahan,
penganiayaan, dan perceraian: yang menang dan yang menyerah
Diawal
abad ke 19 kehidupan di keraton dalam kondisi yang semakin aktif dalam
ketegasan dan keaktifan perempuan. Kehidupan perempuan seperti jelas
tampak adalah perkawinan, penganiayaan dan perceraian. Hal ini menunjukan
gambaran masyarakat biasa juga ada. Perkawinan prempuan yang ada identik dengan
perkawinan tanpa ada rasa cinta (love Match) yaitu perkawinan dengan cinta
betulan jauh dari ada, menjadikan perkawinan atas dasar kecantikan dan hubungan
intim atau seks sehingga persoalan perceraian peganiayaan juga nampak.
Bagian 9
Perempuan
sebagai Penghubung Istana dan Dunia pedesaan
Dampak
pernikahan tanpa ada rasa cinta melainkan pengaruh kecantikan wanita,
pernikahan hanya karena hubungan intim dan seks, sebagai sosok yang membawa
jalur pernikahan, menjadikan wanita sebagai jalan pernikahan antara anggota
masyarakat biasa dengan anggota keraton terus berjalan hingga akhir abat 18 dan
awal abad 19. Perempuan sebagai sosok
yang membawa penghubung antara masyarakat biasa dengan anggota keraton terus
berjalan.
Bagian 10
Perempuan
sebagai penjaga Tradisi jawa pembimbing Anak, penjunjung Agama pujangga dan
penggemar sastra.
Perempuan
diwilayah keraton tidak lepas dari berbagai keahlian dan peran, perempuan
terkait dengan keahlian dan pejuang atau pelopor kebangkiatan Nasional, mampu
berperan dan mendorong politik, perempuan juga aktif dalam bidang sastra
terutama berkaitan dengan pengupul dan penyalin tek yang berkaiatan dengan
Islam jawa. Perempuan juga menjadi wali setia adat Jawa. Hal ini menjadikan
sosok perempuan yang semakin berperan aktif dan penting dala tradisi masyarakat
jawa.

